1,6k words ; kissing
Nolan tengah menuang kuah soto yang dibawa oleh Jofar ke dalam sebuah mangkuk, bibirnya melengkung ke atas ketika harum khas rempah serta kepulan asap terasa menerpa inderanya. Rempah yang wangi serta asap hangat membuat pagi menjelang siang, mengingat ini sudah pukul sepuluh lewat, hari sabtu Nolan terasa begitu tenang.
“Ibuk ga ke sini ya kalo sabtu minggu?” Jofar berdiri di sisi kekasihnya yang sedang menyicipi kuah soto penuh dengan rasa suka cita.
“Enak bangettt. Ten of ten. Apalagi dibawain pacarku yang ganteng.” Nolan menoleh, membubuhi sebuah kecupan di pipi Jofar lalu membawa mangkuknya ke meja makan, meninggalkan Jofar yang masih mencoba menetralkan degup jantungnya. Mau selama apapun hubungan mereka, sesering apapun Nolan mencium pipinya, rasa berdebar ini akan tetap ada dan sama.
“Iya, kan aku pernah cerita. Sabtu minggu ibuk emang ga pernah ke rumah.” Nolan masih menikmati sotonya. Jofar melirik ke salah satu sudut ruangan, tempat CCTV berada, ia sungguh takut jika orang tua Nolan sedang memeriksa CCTV dan mereka kepergok tengah melakukan hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.
Jofar melangkah menuju rak berisi gelas, piring dan dan peralatan dapur lainnya, tangannya meraih dua buah gelas, membawanya menuju dispenser untuk diisi air lalu ia berikan satu pada Nolan dan satu untuknya yang saat ini sudah duduk di sisi kanan Nolan.
“Emang gapapa cucu kesayangan Oma Akung ga ikut gini?” Jofar mencubit kecil pipi Nolan yang sedikit menggembung karena sedang mengunyah makanan.
“Heung. Aku kangen sama Oma Akung tapi tugas akhir aku beneran ga bisa ditinggal,” bibirnya cemberut, Jofar tersenyum melihatnya, “Tapi sekarang ga mood gara-gara Winar itu! Nyebelin!” Nolan mendorong mangkuknya, menoleh menatap Jofar dengan tatapan memincing.
“Kamu,” Nolan menunjuk tepat di atas dada Jofar, “Harus selalu milih aku! Harus selalu mihak aku!” lalu tangan Nolan terkepal, “Awas kalo berani milih Winar!”
Ekspresi Nolan yang galak justru membuat Jofar terbahak. Ia tidak merasa takut apalagi terancam dengan ancaman lucu Nolan. Kepalan tangan Nolan langsung Jofar cium, “Iya, aku selalu milih kamu, sayang. Selalu.”
Ucapan itu bukan bualan semata, bukan juga sebuah candaan karena Jofar memang akan selalu memilih Nolan.
“Kamu ga makan?” Nolan kembali pada sotonya setelah pipinya bersemu merah muda.
“Mama tadi bikin nasi goreng. Abis mandiin kucing sama anjing-anjing aku sama Pram sarapan.” Jawab Jofar yang kembali membuat Nolan cemberut.
“Mau main sama Eren lagi, sayang.” Jofar mengangguk, “Boleh, nanti ya kalo tugas akhirnya udah selesai, sayang.” Pipi Nolan diusap lembut.
Sarapan pagi menjelang siang Nolan diisi dengan obrolan ringan seputar kucing dan anjing-anjing milik Jofar, lalu tentang skripsi dan tugas akhir masing-masing, sesekali membahas tentang orang tua mereka yang makin ikut campur dalam hubungan mereka, bukan ikut campur dalam hal negatif tapi lebih ketergantungan pada satu sama lain, papa Nolan yang sudah tidak mau mancing dengan orang lain selain Jofar dan mama Jofar yang tidak mau makan kudapan lain selain buatan Nolan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang, posisi mereka bahkan sekarang sudah berpindah ke depan ruang keluarga yang ada di lantai satu dekat kamar orang tua Nolan dengan posisi Jofar menyandar pada sandaran sofa dan Nolan yang menyandar nyaman pada dada bidang Jofar, tidak lupa jemari mereka saling bertaut di atas perut Nolan dengan televisi yang menyala menampilkan kartun Spongebob Squarepants.
Rencana awal memang Nolan ingin mengajak menonton film di bioskop tapi mengingat ini hari sabtu dan mereka tinggal di ibukota, baru membayangkannya saja membuat Nolan malas duluan. Sebenarnya, mereka sering pergi jalan-jalan menonton film di hari sabtu sebelum-sebelumnya tapi entah kenapa kali ini Nolan hanya ingin bermalas-malasan seharian bersama Jofar di rumah sambil dipeluk dan diberi kecupan-kecupan kecil di kepala sesekali. Senyum Nolan selalu mengembang tiap Jofar mengecup kepalanya atau mengusap perutnya.
“Udah laper lagi belum ini perutnya?” Tanya Jofar sambil mengusap perut Nolan.
“Mau mie ayam!” Nolan langsung menyebut menu makan siang yang terlintas di dalam kepalanya, “Mau mochi juga boleh ga, sayang?” Kepalanya mendongak menatap Jofar yang juga sedang menatapnya dengan kekehan kecil keluar dari mulutnya.